Istighosah di Ponpes Bayt Al-Hikmah Pasuruan, Atikoh Ganjar Sampaikan Program Santri Magang

2.500 jemaah hadir ikut istighosah

Istighosah di Ponpes Bayt Al-Hikmah Pasuruan, Atikoh Ganjar Sampaikan Program Santri Magang
Siti Atikoh dalam Istighosah Umum untuk Keselamatan Bangsa dan Rakyat Indonesia di Pondok Pesantren (Ponpes) Bayt Al-Hikmah, Kota Pasuruan, Selasa (19/12/2023).
120x600
a

“Ini adalah program penanggulangan kemiskinan, karena kalau kita bicara penanggulangan kemiskinan, maka yang menjadi tulang punggung untuk penanggulangannya adalah pendidikan. Baik itu pendidikan agama maupun pendidikan umum,” lanjutnya.

Problematika tentang fluktuasi harga kebutuhan pokok juga menjadi perhatian Siti Atikoh. Mulai harga bawang putih, bawang merah, dan cabe. Menurutnya, kalau jalur distribusi sembako dari hulu sampai hilirnya bisa diperbaiki, insya Allah akan bisa mengurangi fluktuasi harga di pasar.

“Karena sebagai konsumen menginginkan harga yang stabil ya bu ya? Karena kalau harganya terlalu murah kasian petani. Ini harapannya, nanti kestabilan harga itu benar-benar bisa dicapai,” tambahnya.

Siti Atikoh juga memaparkan program “1 desa 1 puskesmas dengan 1 tenaga kesehatan (nakes)” yang diusung Ganjar-Mahfud. Banyak ibu hamil di daerah terpencil di pelosok Indonesia mengalami kesulitan saat proses persalinan karena akses fasilitas kesehatan yang jauh.

Baca Juga :  Atikoh Ganjar Ngobrol dengan Anak-Anak: Jangan Acungkan Jari

“Padahal, ‘4 terlalu 3 terlambat’ itu bisa berpengaruh terhadap derajat kesehatan seorang perempuan ketika mengandung. Karena sulit mencari tempat pertolongan, akhirnya mungkin pendarahan di jalan, dan ini mempengaruhi kasus kematian ibu melahirkan,” terangnya.

Yang dimaksud Siti Atikoh dengan 4 terlalu adalah terlalu tua melahirkan karena usianya lebih 40 tahun, terlalu banyak anaknya sudah lebih dari 5, terlalu muda melahirkan karena di bawah 17 tahun dan terlalu sering.

Baca Juga :  Atikoh Ganjar Berziarah ke Makam Abuya Cidahu Usai Silaturahmi ke Abuya Muhtadi

Sedangkan 3 terlambat adalah terlambat mencapai tempat kesehatan, terlambat diagnosa, dan terlambat mendapatkan penanganan.

“Terlambat mendapatkan penanganan karena rumahnya jauh harus naik angkot, dokternya belum tentu ada. Lah, ini untuk menghindari hal-hal seperti itu maka upayanya di setiap desa harus ada fasilitas kesehatan. Tentu banyak juga program-program terkait dengan pemberdayaan perempuan, dari sisi ketenaga kerjaan, maupun dari sisi kesehatan bapak dan ibu semua,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah, menerangkan bahwa kedatangan Siti Atikoh di sejumlah Pondok Pesantren Jawa Timur merupakan wujud dukungan morilnya kepada para nyai, ustadzah, santriwati, hingga para jemaah. Menurutnya, Siti Atikoh perlu hadir mendengar isi hati sesama perempuan Indonesia.

Baca Juga :  Atikoh Bertemu Ribuan Milenial, Bahas Pentingnya Asam Folat Mencegah Stunting

“Mari kita kawal bersama demokrasi untuk kesejahteraan Indonesia, tidak ada yang perlu ditakuti. Kita bersama memiliki hak yang sama untuk bercerita, ataupun berpendapat,” kata Said Abdullah.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *