Ditambahkannya, Piagam Museum Rekor Dunia Indonesia diterima oleh Walikota Bandung saat itu, Ridwan Kamil dan disaksikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dan Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Hadir juga representatif dari Guinness World Record pada acara tersebut.
“Namun tidak tahu apa yang terjadi pada saat rapat di London, hasil dari rapat tersebut membuat acara “Angklung for Harmony” yang terjadi di Stadion Siliwangi tidak tercatat di Guinness World Record,” kata Osmar Susilo.
Ditegaskannya, andaikata peristiwa akbar yang terjadi di Stadion Siliwangi tercatat, maka peristiwa pada Sabtu (5/8) di Gelora Bung Karno tidak akan tercatat sebagai Rekor Guinness yang baru karena 15.110 peserta masih kalah dari 20.074 peserta .
“Sonia Usigorochi mengatakan bahwa di Indonesia telah tercatat 124 Guinness World Record. Sementara Museum Rekor Dunia Indonesia telah mencatat 11.100 Rekor sejak didirikan pada tahun 1990, dan MURI sekarang berusia 33 tahun,” ujar Osmar.
“Hal ini sangat ironis, karena Guiness World Record yang awalnya menolak rekor seperti batik dan keris karena dianggap tidak penting, sekarang berani mengakui angklung, salah satu alat musik kebanggaan Indonesia yang berasal dari Jawa Barat dan telah diakui oleh UNESCO tahun 2010 sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia sebagai rekor,” tambahnya.
Dia juga mengatakan, melihat sejarah kemerdekaan Indonesia, pendiri bangsa ini memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 tanpa pengakuan dari asing.
“Seharusnya setelah 78 tahun Indonesia Merdeka, kita tidak mempunyai Inferiority Complex untuk mendapatkan pengakuan dari negara atau Lembaga asing namun dari dalam negeri sendiri,” tandasnya.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed





