Pilkada DKI Hitungan Bulan, Heru Budi Hartono Dianggap Layak Pimpin Jakarta Secara Definitif

Ketua KAHMI Jaya, M. Ichwan Ridwan.
Ketua KAHMI Jaya, M. Ichwan Ridwan/doc. KAHMI Jaya.
120x600
a

JAKARTA, Otonominews.id – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tinggal menghitung bulan. Sejumlah tokoh politik pun mulai muncul mengincar kursi orang nomor satu di kota yang kini bermetamorfosa menjadi Daerah Khusus Jakarta (DKJ).

Walaupun sebetulnya, aturan mekanisme pemilihan Gubernur Jakarta hingga saat ini masih menuai kontroversi. Namun demikian keberadaan Gubernur Jakarta definitif merupakan keniscayaan.

Menanggapi hal tersebut, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Jakarta Raya (KAHMI Jaya) menilai pentingnya figur Gubernur Jakarta yang sudah khatam memahami setiap persoalan yang ada.

Ia pun menyebut nama Heru Budi Hartono yang kini menjabat sebagai Penjabat (Pj) Gubernur DKI merupakan salah satu sosok yang dianggap layak.

“Jakarta sedang berproses menuju daerah khusus. Bahkan kota bisnis berskala global. Pondasi ini sudah dibangun secara serius oleh Pj Heru, maka keberlanjutan itu harus nampak, jangan dari nol lagi. Pj Heru cukup kapabel dan cocok mimpin Jakarta ke depan. Dia paham gimana membangun Jakarta,” kata Ketua KAHMI Jaya, M. Ichwan Ridwan, Selasa (5/3/2024).

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Boim ini mengungkapkan, pada hampir dua tahun ini Heru cukup akseleratif melakukan perbaikan infrastrukur. Misalnya, kata Boim, yang terbaru adalah pembangunan sistem pengolahan sampah sementara reduce, reuse and recycle (TPS 3R). TPS 3R yang memiliki kapasitas 50 ton sampah per hari ini akan menghasilkan bahan bakar jumlutan padat atau refused derived fuel (RDF).

“Dan banyak lagi pembangunan yang terus dilakukan sebagai solusi untuk Jakarta. Revitalisasi pasar, pengendalian inflasi, normalisasi sungai, optimalisasi transportasi publik hingga penuntasan sodetan Ciliwung. Bahkan, program penertiban data penduduk pun dilakukan, meskipun tidak populer, tapi penting sebagai validasi mewujudkan kesejahteraan warga,” ujarnya.

Lihat Juga :  Polda Lampung Terima Penghargaan Keberhasilan Inovasi Program Manajemen Arus Mudik 2023, Award Tribun Lampung

Boim pun berpesan agar Heru terus meningkatkan interaksi yang sudah terjalin dengan masyarakat, seperti dengan stakeholder pendidikan dan kebudayaan. Ia pun berharap, kepemimpinan Heru bisa melahirkan sebuah legacy, khususnya terkait dengan dunia pendidikan dan ke-Betawi-an.

“Memang selama bertahun-tahun Betawi itu nyaris belum mendapat tempat yang baik. Yang ada periode kemarin hanya sebatas mengganti nama jalan saja, tidak lebih. Dengan corak baru Jakarta ini, kami yang ibaratnya tali ari-ari nya ditanam di sini sangat ingin warisan nenek moyang kami dilestarikan dengan baik,” ungkap dia.

Boim menuturkan bahwa Jakarta yang saat ini sedang menuju kota Global, memiliki pengaruh besar untuk mengenalkan budaya lokal ke kancah internasional. Menurutnya, Budaya lokal, dalam hal ini Betawi harus dijadikan magnet untuk menarik perhatian wisatawan dari setiap negara di dunia.

“Jadi bagaimana harusnya ketika turis datang ke Jakarta, mereka penasaran ingin menyaksikan budaya Betawi itu apa dan bagaimana. Karena kalau yang disuguhkan itu budaya milik orang lain, ya tentu turis akan memilih datang ke daerah atau negara asal budaya tersebut,” jelasnya.

“Tidak perlu jauh-jauh, misalnya bagaimana ornamen Betawi ada di setiap hotel, MICE, pusat perbelanjaan, sekolah-sekolah, tempat wisata dan lain-lain. Atau, ada satu hari yang diwajibkan bagi anak sekolah untuk memakai seragam bernuansa Betawi. Nah ini butuh political will dari seorang Gubenur, saya melihat ini bisa dilakukan Pj Heru,” tambah dia.

Meski demikian, kata Boim, pihaknya pun meyakini bahwa Jakarta merupakan pusat akulturasi budaya. Ia tidak menampik bahwa Jakarta mewadahi setiap orang dari berbagai suku, ras dan agama. Boim juga menegaskan, masyarakat Betawi sejak dulu sangat terbuka dengan keberagaman yang ada di Jakarta.

Lihat Juga :  Pemprov DKI Didesak Tindak Tegas Para Penyalahguna Terotoar

“Gubernur Jakarta harus merupakan simbol pemersatu yang tidak boleh menafikan adat budaya setempat. Bahwa Betawi sebagai akar budaya Jakarta harus diakui, pun bahwa Jakarta juga rumah bagi semua budaya, itu tidak boleh dihilangkan,” jelasnya.

“Maka, figur Pj Heru sebagai orang yang sudah paham di Jakarta, lama kerja di Pemprov DKI, mengalami berbagai fase kepemimpinan Gubernur, pastinya Pj Heru paham juga bagaimana caranya menjadi Bapak bagi semua kelompok masyarakat di Jakarta. Pj Heru layak di definif-kan sebagai Gubernur Jakarta,” pungkas Boim menambahkan.[Ald]

r

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *